Showing posts sorted by relevance for query imajinasi-liar-yang-menggila. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query imajinasi-liar-yang-menggila. Sort by date Show all posts

Pemuja Hujan yang Kasmaran Dalam Imajinasi

March 24, 2019
Tulisan pemuja hujan ini merupakan sebuah syair tentang hujan yang hadir dari inspirasi pengalaman indah ketika hujan menghadang di perjalanan. Makna sebuah keindahan cinta kerap dihubungkan dengan hujan.

Entah atas dasar mayoritas manusia sampai kemudian terbentuk sebuah sugesti jiwa ataukah nilai-nilai kebetulan yang semakin menjadi dalam hasrat manusia mempersepsikan hujan. Namun yang pastinya inspirasi datang tak terduga dan hujan menjadi salah satu aktivitas alam dalam penghayatan.

Berlindung dari dahan pepohonan kampus yang berdiri kokoh mengayun menghalang awan hitam penanda. Tiba saat menjamu hujan deras siang, dari kejauhan mendekat berlari sosok indah

Berlari berhalang hujan dengan memo kecilnya. Entah siapa namanya tentu tak kalah indah dari orangnya. Iri hati pada hujan kurang ajar yang singgah tepat pada pipi merah delimamu.

Berucap kasih pada hujan itu yang menciptakanmu mendekat merambat meneduh di samping. Tersadari berjarak, namun bahagia melihat alami wajahmu di balik kibasan rambut terurai basah

Mungkin, aku tak berpaling padamu, tenamun hatiku menatap lurus tepat keindahanmu. Hujan kurang ajar pembawa rasa kasmaran padaku yang sempat berlari menujumu dalam khayalan

hanya kecil bagian dibasahi hujan. entah mengapa aku marah namun berterima kasih. Dengan hujan aku melihatmu dengan hujan aku menemukan moment dengan hujan aku mulai malu.





Imajinasi merupakan sebuah bentuk keaktifan manusia untuk selalu berbikir. Tanpa imajinasi, kita seperti sebuah robot yang hanya bekerja tanpa pikiran. Dengan berimajinasi, kita menjadi manusia yang benar-benar menikmati kebebasan berpikir. Ada seorang yang ditanya oleh temannya, apa cita-cita yang ingin kau raih ? dan dia menjawab cita-citanya merupakan menghayal. Dapat dikatakan bahwa dia benar-benar menikmati setiap detik imajinasinya dengan sebuah kenikmatan yang dia sendiri tak mampu menjabarkan dengan kalimat manis.

Penulis: Awin Buton

Hidup Dalam Bayang Kematian

March 13, 2019
Indonesia merupakan negeri yang indah bila dipandang mata, terdapat kaya suku, budaya dan agama yang hidup saling berdampingan. Di negeri ini aku dilahirkan, dipelukan ibu aku dibesarkan. Tetesan susumu memberiku harapan untuk hidup di masa depan. Ketika tumbuh dewasa aku hendak pergi meninggalkanmu, doamu merupakan cahaya yang selalu menerangiku dari kegelapan.

Di negeri ini aku melihat sepanggal surga yang tuhan titipkan untuk kita yang masih diberi nafas kehidupan. Ada air sungai yang mengalir, pohon-pohon tumbuh subur diatas tanah. Burung-burung terus berkicau ketika menyambut sang fajar dan ikan-ikan yang terus berenang dalam mengarungi samudera biru.

Tuhan engkaulah sang raja yang harus aku sembah di bawah payung langitmu engkau titipkan surga dan neraka supaya aku tak serakah. Tidur diatas tanggamu dan makan di dalam rumahmu, ketika siang aku seperti burung yang terbang meninggalkan sarangnya. Disaat malam aku seperti kelelawar berkumpul mencari mangsa, hari-hari aku seperti hewan yang hidup tak berarah.

Hidup dalam kemewahan memberikan kita peluang untuk berbuat serakah, semoga kemana aku pergi engkau selalu menemaniku dalam doa. Wahai Tuhanku, engkaulah pemilik cinta yang bijaksana semoga aku masih dapat hidup dan melihatmu tertawa seperti sediakala. Tertawa dan tersenyum ketika aku keluar dari rahimmu, kasih adminng dan ketulusan cintamu memberiku kekuatan untuk terus hidup. Terkadang keramaian menciptakan kita lupa sebagai mahluk yang berdosa, kematian menciptakanku sadar bahwa aku hanya bangkai yang hidup di bumi untuk sementara.

Lihat juga : Imajinasi liar yang Menggila

Setiap peristiwa akan menjadi sejarah ketika kita sudah tiada, dan Dunia akan binasa bila sudah tiba pada waktunya. Hari ini cukup kita masih dapat bernafas namun hari esok semua akan menjadi bangkai yang bersarakan diatas tanah, layaknya daun kering jatuh ke bumi. Semoga kemewahan dunia tak menciptakan kita lupa jalan pulang sebab semua materi akan binasa, tersisa hanyalah cinta yang abadi.

Penulis: Sarifudin Tidore (Ucen Albiir)